Jumat, 01 April 2011

"KUNIKAHKAN PUTRIKU DENGAN MAHAR CINCIN BESI PUTIH"

 KISAH NYATA NURANI
oleh 'Nurani' Suara Wahdah pada 28 Maret 2011 jam 17:38

Dari Pak Zabir di Samarinda

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb

Pendengar Nurani yang budiman, aku adalah seorang ayah yang saat ini telah memasuki usia 58 tahun.., dari pernikahanku dengan istriku Yuanita –Rahimahallah- kami dikarunia seorang putri yang anggun dan cantik seperti ibunya, saat lahir kami memberinya nama -Rahma- , jujur, rahmah telah melengkapi kebahagiaan keluarga kecil kami, apalagi di semarang aku dan ibunya hanyalah seorang perantau dimana aku harus menuanikan kewajibanku sebagai seorang PNS dengan penempatan kerja sampai ke Samarinda..dan Alhamdulillah aku menikmati semua itu, bersama istri dan anak semata wayangku, kulalui hari-hari bahagia kami disana, sebagai anak pertama dan belum memiliki adik, rahma begitu kami perlakukan layakanya seorang princes, dimana setiap kebutuhannya selalu terpenuhi dengan baik.., dan sebagai seorang ayah, yang memiliki tanggung jawab penuh atas keluargaku, aku tidak segan2 memberikan apapun yang menjadi kebutuhan keluargaku, terutama istri dan anak semata wayangku, yang aku tahu saat itu, bahwa aku bekerja mencari nafkah semata2 untuk memenuhi kebutuhan dan membahagiakan keluarga kecilku.

Pendengar Nurani yang baik

Alhamdulillah dengan perjalanan waktu, Rahma tumbuh menjadi anak yang cerdas.., cantik dan anggun, dan yg membuat aku kagum dengannya, meskipun diperlakukan layaknya seorang princes, tak sedikitpun kulihat ada kecongkakkan dalam diri rahma, apalagi dihadapan teman sebayanya, bahkan jiwa sosialnya begitu sangat kental sekali kulihat, aku bangga padanya…, aku sangat berharap bahwa diusia dewasanya kelak, rahma akan tetap menjadi anak yang sosialis dan dermawan, sebagai orang tua..aku pun mulai menanamkan sebuah mimpi untuk masa depan putrid semata wayangku kelak…aku muali berangan2 bila kami diberi usia yang panjang, maka aku akan berusaha semampuku untuk menjadikan rahmah sebagai wanita terpandang dan memiliki jabatan tinggi dimasa depannya nanti..akun mulai berandai-andai bahwa pria yang bias menikahinya adalah pria yang harus memiliki kemapanan dari berbagai segi, agar anakku bias mendapatkan kebahagian penuh dari suaminya, mengingat bahwa rahma tumbuh menjadi anak yang sangat anggun…itulah mimpiku saat itu, mimpi seorang ayah yang berharap kebahagiaan penuh yg akan dirasakan oleh putrinya, mimpi seorang ayah yang menginginkan agar derajat keluarga dan anaknya akan semakin terangkat dengan menjadikan putrinya sebagai wanita berkelas dihari depannya nanti.., dan mimpi seorang ayah yang hidup diera modern saat ini…dan aku yakin mimpi itu bias terwujud dan bias menjadi nyata apabila aku bersungguh2 memberi dukungan padanya..

Pendengar Nurani yang baik

Berbagai upaya mulai aku lakukan.., apalagi ketika rahma mulai memasuki masa remajanya, dan memang benar..subhanallah..keanggunan dan kecantikan putriku semakin jelas terbias..dan aku yakin bahwa nilai dari kecantikan dan keanggunannya itu akan sangat tinggi, apalagi disekolahnya rahma juga tergolong anak yang cerdas.., meskipun tidak pernah meraih rangking satu dikelasnya, tetapi peringkat ke- 2 dan 3 selalu disabetnya, dan bagiku ini sudah lebih dari cukup.., sikap kedermawanan dan sosialnya rahmapun masih tetap melekat dalam dirinya.., hingga suatu hari ketika rahma memasuki bangku kelas 2 SMP, dia memintaku untuk memindahkannya ke sekolah muslim (pesantren), ujarnya suatu hari padaku sepulangnya dari sekolah :

“Assalamu ‘alaikum papa…”

“wa’alaikumussalam nak…baru pulang ya.., ayo sana ganti bajumu dan segera makan.., tadi sebelum istirahat siang mamamu sudah menyiapkan makan siang untuk kita..” selaku menimpali salamnya

“iya pak.., terima kasih…, oh ya pa.., papa lagi gak sibukkan?, ada sesuatu yang mau nanda ngomongin sama papa.., pentiiinggg skali…” ujar rahma lagi sambil tersenyum padaku…(Nanda adalah panggilan saying kami kepada rahma)

“Hmmm.., soal apa sih..bikin papa penasaran aja..” jawabku

“tapi papa gak sibukkan..?”

“tidak nak.., emang nanda mau ngomongin apa.., papa siap dengar…”

“gini lho pa..nanda tuh inggiiiiinnn skali bias berbahasa arab, trus ingin belajar banyak soal fiqih, aqidah dll.., nah.., bila papa berkenan, untuk tahun ke tiga ini, nanda ingin dipindahin ke Pesantren pa..please…nanda mohon pa..ya..ya….” ujar rahma padaku sambil memelas, sesaat aku tertegun menyaksikan tingkah lakunya, aku sendiri bingung dan tak tahu harus menjawab apa, namun perjalanan waktu membuat aku luluh dan mengabulkan permintaan putrid semata wayangku, tentunya dengan sebelumnya meminta pertimbangan dari ibunya.

Pendengar Nurani yang baik

Aku sangat bangga dengan prestasi yang dicapai oleh rahma, meskipun dia harus beradaptasi dengan lingkungan barunya dipesantren namun tak sedikitpun membuat nilai2nya merosot, bahkan menurut penuturan kepala sekolah, hanya dengan beberapa pecan saja, rahma sudah bias menyesuaikan diri dengen beberapa pelajaran agama tambahan yg sebelumnya tidak pernah dia dapatkan dibangku sekolah umum, dan prestasi2 itu yang membuat aku dan ibunya bangga dan bahagia padanya.., akan tetapi saying, kebahagiaan itu berangsur2 lenyap dan berubah menjadi kesedihan, mana kala memasuki pertengahan semester, -Yuanita- ibunya rahma meninggal dunia karena penyakit diabetesnya. Kuingat betul sehari sebelum ia meninggal, yuanita sempat berpesan padaku, bahwa dia meminta agar aku benar2 memperhatikan putri semata wayang kami, bahwa aku selalu diminta untuk membuatnya bahagia dan tersenyum serta memintaku utnuk berupaya sedapat mungkin menjadikan rahma sebagai orang yang berguna bagi banyak orang…dan pesan-pesan inilah yang selalu membayang-bayangi fikiranku, saat itu aku berjanji pada diriku sedniri insya Allah aku akan mengabulkan semua permintaan yuanita meskipun itu rasanya berat bagiku, dan dengan permintaan dari ibunya itupulalah yg membuat aku lebih menyayangi putriku.

Pendengar Nurani yang baik

Perjalanan waktu membawa kehidupan putriku pada sebuah kemapanan, dimana usai menamatkan studinya di MTs, dan Madarasah Aliyah, sesuai dengan permintaannya, dia melanjutkan kuliah di sebuah Universitas Muslim dengan mengambil jurusan Hukum Islam, yg sejujurnya sebelumnya sempat aku tentang, karena besar harapanku untuk menjadikannya seorang politisi dengan mengambil jurusan Sospol, tapi mimpi itu kubuang jauh-jauh manakala ia memaparkan padaku tentang alasannya mengambil jurusan itu, dimana dia ingin mengetahui ilmu islam lebih dalam, dimana ia terlanjur mencintai semua yang berhubungan dengan islam dan dengan mempelajari itu semua insya Allah akan mengantarkannya pada sebuah keyakinannya untuk memeluk islam secara kaffah, bukan setengah-setengah, entahlah..aku tidak tahu mengapa keangkuhanku selalu luluh dihadapannya, padahal metode penyampaiannya bagiku terbilang biasa-biasa saja, rahma juga pernah menyuguhkan sebuah buku yang dibukanya lebar2 dimeja kerjaku, padahal aku tidak pernah memintanya, yah.., sebuah buku yang begitu sangat menggugah perasaanku, sirah sahabat dan sahabiyah, dan usai membacanya membuat nalarku semakin memahami berbagai argument dan alasan dari putriku mengapa ia ingin sekali berislam secara sempurna.., pendengar, suatu hari ketika memasuki semester duanya, tiba2 aku dapati rahma memakai busana muslim yang menurutku sangat aneh dan tidak biasa dikenakannya, iya.., setelah sebelumnya menyiapkan sarapan pagi untukku, aku melihatnya memakai busana muslimah lengkap dengan penutup wajahnya, aku sih sebenarnya sering melihat orang bercadar.., tetapi masih terlihat kedua bola mata mereka karena cadar itu tidak menutup sepenuhnya wajah mereka, tetapi pagi itu aku melihatnya ketika hendak kekampus dengan pakaian muslimah yang menutupi seluruh bagian tubuhnya, bahkan selain cadar dia juga menggunakan sebuah kain hitam halus menutupi seluruh wjahnya, aku sendiri sempat linglung dan kaget menyaksikan semua itu karena menganggap bahwa ia bukan putriku melainkan sahabat sekampusnya yg mungkin menginap bersamanya semalam, tetapi mendengar suaranya saat mengucapkan salam pamit kekampus, aku baru tahu bahwa itu putriku, tak ada kata2 yang dapat kuucapkan selain berdiri terpaku memandanginya yang telah berlalu pergi, ingin sekali aku mengajarnya dan menghuajaninya dengan berbagai pertanyaan dengan kemarahan yang mulai menghinggapi benakku, tetapi aku tak bias mengejarnya karena ia telah berlalu dan menjauh dari rumah.., saat itu perasaan didalam hatiku mulai campur aduk, kesal, marah dan kecewa dengan perubahan putriku yang seolah mau berbuat apa saja tanpa meminta pertimbanganku, karena tak bias mengejar dan menghakiminya, maka kuniatkan untuk menantinya saat kembali dari kampusnya, dengan perasaan yang masih belum menentu aku menghampiri meja makan, dimana disana telah disediakan oleh putriku berbagai menu sarapan pagi ku, dengan lahapnya aku mulai menyantap masakan yg telah tersedia saat itu, sempat aku merasa kagum dengan putriku, sebab meskipun terbiasa dengan prilaku manja yg aku berikan, namun tak membuatnya terbuai dan menjadi sosok gadis pemalas, aku kagum dengannya, sebab selain cantik, cerdas, rahma juga adalah anak yg rajin, dan pandai memasak, seluruh sudut rumahpun selalu tampil cantik dan rapi hasil kerja kerasnya, akan tetapi mengingat perubahannya pagi tadi membuat rasa kagumku tiba2 hilang dan berganti dengan amarah yang ingin sekali kuluapkan dihadapannya, hingga usai menyantap makanan pagi itu, dan hendak mengambil minuman yang agak sedikit jauh dari tempat dudukku, tiba2 aku melihat ada sebuah buku terbuka lebar disamping gelas minuman yang telah disiapkan oleh putriku, sesaat jiwa kutu bukuku mulai menyapa, sambil meraih gelas itu, akupun perlahan meraih buku yang terbuka itu, kulihat dengan jalan lembaran yang terbuka itu adalah penjelasan tentang Bab Keutamaan menutup aurat bagi muslimah, kulihat disampul depannya buku itu bertajuk fiqih wanita, dan tak kubiarkan buku itu tergeletak begitu saja, perlahan-lahan aku mulai membaca kata demi kata dan kalimat demi kalimat dalam lembaran-lembaran yang telah terbuka itu, bulu kudukku semakin merinding saat membaca isinya, ttg keutamaan bagi muslimah menutup aurat serta ancaman-ancaman bagi mereka yang dengan sengaja mempertontonkan auratnya, saat itu mataku mulai berkaca2..aku baru mengerti mengapa pagi ini putriku tampil dengan muslimah yang syar’I, dan lagi-lagi keegoisanku luluh dengannya, kemarahankupun mulai sirnah dibuatnya, apalagi membaca sebuah kertas kecil yang diselipkan putriku pada lembaran itu..

“Assalamu ‘alaikum papa.., semoga Allah selalu merahmatimu dan memanjangkan usiamu, hingga hidayah-Nya akan menyapamu suatu saat.., sebelumnya nanada minta maaf pada papa, bila mulai hari ini ada yang berubah dalam diri nanda tanpa izin dari pada.., jujur..tidak ada yang lebih memotifasi diri ini selain keridhoan dari Allah Azza wajjallah, sehingga nanda akan selalu terhindar dari fitnah dunia dan dijauhkan dari tipu daya syetan, semoga niat tulus nanda ini juga akan beroleh ridho dari papa.., salam saying dari putrimu-nanda-“

Mataku berkaca-kaca usai membca goresan tangan putri semata wayangku itu, dan kemarahan dalam hatikupun perlaahan-lahan mulai mereda, sebab aku sudah memahami dan mengetahui alas an dari perubahan putriku saat itu, meskipun dalam hati kecilku selalu bertentangan dengan keinginanya, sebab betapa diri ini ingin sekali menjadikannya seorang wanita hebat dihadapan manusia, lalu bagaimana dia akan menjadi seorang PNS bila ia berbusana seperti itu, atau bagaimana nanti pandangan masyarakat bila mengetahui ada caleg wanita dengan penampilan seperti itu..ahh, ini mustahil..tapi disisi lain impian dari putriku begitu mulia..haruskah aku menentangnya.., itulah gejolak hatiku yang entah mulai ditunggangi oleh hasutan syetan yg terkutuk itu.

Pendnegar nurani yang baik

Disuatu hari lagi di penghujung tahun 2006, ketika dibuka pengangkatan CPNS secara serentak diseluruh Indonesia, aku menyarankan padanya untuk mengikuti seleksi itu, namun tak sedikitpun rahma meresponnya selain sunggingan senyuman dan anggukan halus dari wajahnya, aku paparkan keinginanku untuk melihat dia sukses menjadi seorang PNS, bahkan aku mulai membujuknya untuk sedikit saja menyepakati keinginanku untuk melepaskan busana muslimah yang dikenakannya setiap hari dan menggantinya dengan pakaiannya yg dulu, busana muslimah seadanya dengan jilbab segitiga.., tapi lagi-lagi rahma tidak memberi tanggapan yang berarti padaku selain senyuman dan sebarek kesibukannya mengurusi semua pekerjaan rumah, hingga lagi-lagi mana kala aku hendak keruang tengah menonton tayangan berita di TV, kembali kudapati segelas minuman hangat dan sepiring gorengan ada dimeja disertai sebuah buku yang terbuka lebar disamping hidangan itu..dan seperti biasa jiwa kutu bukuku kembali terusik, jujur aku mmang hobi sekali membca, bahkan Koran-koran bekas yang kutemukan dijalananpun tak kubiarkan menjadi penghuni sampah sebelum aku membacanya, dan buku yang terbuka lebar siang itu menjelaskan tentang Manfaat dan mudharat menajdi PNS, dengan seksama kubaca seluruh bab tentang itu.., dan kembali kengkuhan sikapku yang terlalu memaksakan putriku menjadi seorang PNSpun menjadi luluh.., tapi aku tidak habis fikir, mengapa rahma selalu menjadikan buku2 koleksinya itu sebagai teman makan dan santaiku, apa memang sengaja?, atau dia hanya sekedar lupa membawanya kekamarnya lagi setelah membaca buku2 itu..?, dan kalau memang dia telah memahami setiap perbuatan dan sikap yg dia tunjukan padaku, mengapa ia tak menjelaskannya secara langsung dihadapanku?, atau, apa memang dia jadikan ini sebagai media dakwah untukku?, karena dia telah mengenal tabiatku yg seorang kutu buku?, hmmm..benar2 sulit dimengerti.., pendengar.., begitulah sikap rahma padak, tak pernah sedikitpun dia mendakwahi diriku secara langsung, tetapi berbagai koleksi buku2 ttg pengetahuan islamnya selalu dia letakkan ditempat2 strategis yang selalu aku berada disana, sehingga tergelitiklah diriku utnuk mendekati, meraih dan membca buku2 itu.

Pendnegar nurani yang budiman

hingga waktu jualah yang membawa putriku pada kedewasaan hidup yang semakin mapan, dengan penampilannya sebagai muslimah, telah ada 2 lelaki yang dating bermaksud meminangnya, aku tidak tahu apa motifasi mereka, pertama seorang pria yang ngakunya kakak tingkatnya rahma yg 2 tahun sebelumnya telah tamat dan telah bekerja sebagai PNS di sebuah intansi pemerintah didaerah kami, Dani namanya. Pria ini sebenarnya sangat bersahaja, rapi dan sepertinya berpendirian kuat terhadap agamanya, Namun pria itu aku tolak karena nilai nominal yang dibawanya untuk melamar putriku jauh dari standar yang kuinginkan yaitu 45 juta, dan Dani tidak menyanggupi hal itu, 3 bulan setlahnya dating lagi seorang lelaki paruh baya bersahaja dengan jenggot tipis menghiasi dagunya yang tak lain adalah dosennya rahma, pria ini dengan terang2an kutolak karena usianya terlalu tua untuk putriku, dan dari segi omset pria ini hampir memasuki masa pensiunnya, dan aku yakin rahma juga sependapat denganku saat itu, hingga suatu pagi, sehari setalah aku menolak pinangan pria terakhir yang dating pada putriku itu, tiba2 putriku dating dengan wajah kesedihan diwajahnya.

“kenapa kau nak..koq cemberut gitu..”

“maaf pak..nanda Cuma ingin tahu, alasan papa menolak lamaran pria-pria itu ?”

“hmm..jadi itu yang membuatmu cemberut..gini lho nak..kau itu gadis anggun, cantik, cerdas, rajin dan masih banyak kelebihan yang kau miliki.., yah menurut pandangan papa kau adalah gadis yg sempurna dengan semua kelebihanmu itu, maka..haruskah papa membiarkan begitu saja kau menikah dengan sembarang pria yang tidak bias menyeimbangi kelebihanmu?, tentu tidak nah..,kau tahu..sejak kecil papa telah membangun sebuah impian besar untuk menajdikan seorang wanita terhormat sehingga tak boleh sembarang pria dating melamarmu, apalagi samapi menikahimu.., jadi jelaskan..mengapa papa menolak pria2 itu..?, alasan pastinya adalah bahwa 2 pria yg dating kemarin itu belum memenuhi stadar keinginan papa..”jawabku ketus

“astagfirullah pak.., mengapa papa menajdikan tingakat dan status ekonomi mereka sebagai standar penilaian utk menjadi suamiku..?, begitu murahkah aku dimata papa sehingga papa menjadikan materi sebagai patoakn utama untuk menerima pingan itu?, aku mohon pak.., aku ini putrimu, bukan sebuah barang yang hargus dipatok dengan harga tertentu..”ujarnya menanggapi argumentku

“Rahmah..kau bicar apa sih, semua ini papa lakukan untukmu nak..”

"Papa..sejak kecil aku tidak pernah meminta apapun pada papa.., semua keingnan papa tak satupun yg luput dari lalaiku..semuanya kupenuhi, maka, izinkanlah aku meminta sesuatu pada papa..aku tahu ini berat..tapi tak ada kebahagiaan yg bisa ...aku rasakan selama hidup ini kecuali bila permintaanku ini dapat papa penuhi..." ujar rahma padaku saat itu..

"apa itu nak.." tanyaku lagi

"Aku mohon sama papa.., Bila ada seorang pemuda sholeh datang padaku dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dia miliki, maka aku minta pada papa terimalah pinangannya, apapun maharnya untukku.., meskipun hanya sebuah cincin berkarat yang tidak berarti dimata papa.., sebab bagiku..Cukuplah Kesholehannya yang bisa menjadi mahar bagiku..selebihnya aku tidak menginginkan yang lainnya..." jawab rahma padaku yang semakin membuat aku bingung....

Pendengar nurani yang baik

Hingga suatu hari datanglah seorang lelaki bersahaja kerumahku, dari penampilannya memang pria ini bukan dari kalangan orang kaya.., sebab pakaian yang dikenakannya hanya dari bahan sederhana, namun secara fisik lelaki ini berpenampilan bersih dan rapi, aku sendiri belum pernah melihat lelaki ini, baik dikampusnya Rahma maupun dikompleks ini, siapa dia yaa..?, dengan perasaan masih penuh Tanya kupersilahkan masuk pria bersahaja itu, kulihat didagunya tumbuh jenggot tipis yang menambah pancaran charisma pria tersebut, hingga bebera saat kemudian..

“Maaf, siapa ya..?, koq saya baru lihat…, anak baru ya dikompleks ini?” tanyaku

“I iya Om, saya baru 10 hari disini, silaturahim kerumah tante yg rumahnya berada diujung gang ini.., nama saya farhan”jawabnya sambil memperkenalkan diri.

“trus nak farhan ada perlu apa ya?, apa ada yang bias dibantu?” tanyaku lagi

“Hmm..begini pak, sebebarnya maksud kedatangan saya kesini adalah..untuk….untuk…melamar putrid bapak..”jawabnya lagi dengan sedikit terbata-bata.

“Melamar Putriku?, maksudnya Rahma?, apa kau mengenalnya?, ketemu dimana?, kamu teman kampusnya ya?” tanyaku dengan agak sedikit kaget pada pria itu

“Ooh..saya tidak mengenal putrid bapak..saya juga belum pernah mendengar apapun tentang keluarga ataupun putrid bapak…” ujarnya menyela

“trus, kalau belum pernah bertemu dan kenal dengan putriku, lantas kenapa kau berani melamarnya?, apa ini hanya guyonamu saja..?” ujarku menimpali seruan farhan dengan nada agak sedikit keras karena merasa bahwa dia sedang berguyonan saat itu.

“Ee..ee bukan bermaksud begitu pak, saya tidak ada maksud berguyon..saya sedang berkata2 serius saat ini..insya Allah ini tulus dari hati saya…” jawabnya lagi

“kau ini aneh.., tadi kau bilang belum pernah bertemu dan kenal dengan putriku, trus katanya mau melamar putriku.., kalau bukan berguyon lantas ini apa namanya..?, bagaimana kalau putriku jelek rupanya…?, kau mau ambil resiko untuk tetap menikahinya?!!” ujarku dengan nada yg lebih keras lagi..

“ee..maaf pak sebelumnya saya harap bapak tidak tersinggung dan emosi dengan niat saya ini tapi demi Allah saya tidak pernah ertemu dan mengenal putrid bapak, tapi niat untuk menikahinya juga bukanlah hal yang main2 pak…insya Allah saya serius.., adapun persoalan wajah putrid bapak yang cantik atau jelek itu adalah nomor sekian yang menjadi motifasi saya dating ketempat ini untuk melamar putrid bapak” jelasnya padaku dengan berusaha meredam emosiku

“Lalu, hal apa yang menjadi motifasi utamamu sampai begitu berani dating dan melamar putriku, hahh?”tanyaku lagi

“Insya Allah motifasi utama saya dating dan melamar putrid bapak saat ini adalah Lillahi ta’alaa, , jujur selama 10 hari saya berada dikota ini, hampir setiap hari saya melihat putrid bapak lewat didepan rumah tantenya saya tanpa ada mahrom yang menemaninya, dan dalam satu hari sampai beberapa kali saya melihatnya melewati rumah saya tanpa ada mahrom yang mendampinginya, baik anda sebagai bapaknya, saudara laki2nya atau suaminya.., maaf sebelumnya, saya tidak bermaksud menceramahi bapak tetapi dalam aturan syariat ini tidak benarkan seorang wanita bepergian keluar rumah tanpa ada mahorm yang menemaninya, apalagi dalam sehari sampai beberap kali, dan hal ini yang menyebabkan keprihatinan saya sehingga saya dating dan menyampaikan niat baik ini, insya Allah kalau bapak berkenan, saya ingin menjadi mahromnya dan akan selalu menenmani dan mengantarnya kemana saja yang dia inginkan selama itu untuk ummat dan kebaikan, sehingga putrid bapak akan terhindar dari fitnah dan tipu daya syetan karena telah ada mahrom yang mendmpinginya kemana saja..” ujar farhan dengan nada tegas dan bersahaja, sesaat aku terdiam menatap wajah pemuda ini sambil menelaah kalimat demi kalimat yang disampaikannya, sesaat akupun teringat prmintaan putriku yang begitu merindukan calon pendamping hidup yang soleh untuk menjadi imamnya dan keluarganya, apakah pemuda ini adalah pria yg tepat untuknya? “tanyaku dalam hati

“Hmm..bila memang niatmu itu tulus.., berapa kemampuanmu dalam memberikan mahar dan uang nikah buat putriku?, asal kau tahu, rahma adalah gadis yang baik, insya Allah sholehah, cerdas dan masih banyak lagi kelebihan yang dia miliki…” ujarku mempresentasikan putriku dihadapan pria tersebut.

“Subhanallah.., saya bangga dengan putrid bapak…, semoga Allah senantiasa meng-istiqamahkan beliau, akan tetapi begitu murahkah harga dari seorang yang berahlakq baik dan mulia seperti beliau?, sehingga bapak masih mengukur keberadaannya dengan materi dan nilai mata uang?, pak.., keimanan dan kesholehan seseorang itu sebenarnya tidak ternilai dengan bentuk materi apapun, bila putrid bapak diibaratkan emas dan permata, maka ia adalah emas dan permata yang bersumber dari syurga, yang tidak bias ternilai dengan jenis materi apapun yang ada didunia ini, jadi untuk semua itu.., bila bapak berkenan, maka sayapun ingin member mahar kepada putrid bapak dengan mahar yang tidak ada nialinya didunia ini…” terangnya lagi padaku

“Wahh…, maharnya apa nak..?, koq sampai tidak ternilai dengan materi apapun..?, pasti mahal harganya?” jawabku dengan penuh semangat

“Hmm.., insya Allah untuk seorang wanita solehah seperti putrid bapak, saya ingin mempersembahkan keimanan dan ketaqwaan saya sebagai mahar untuknya meskipun sebagai manusia biasa saya sendiri tidak bias mengukur kadar iman itu dalam diri ini, tapi insya Allah saya akan selalu berdiri tegak dijalan Rabbku hingga akhir hayat ini, selain itu juga saya ingin memberi sebuah cincin besi putih tua yang saat ini sedang melingkar dijari saya untuk beliau.., semoga bapak dan putrid bapak berkenan.., hanya itu pak yang saya mampui..” ujar farhan dengan wajah menunduk sambil memperlihatkan cincin putihnya kepadaku, menyaksikan semua itu aku semakin terpaku..ada perasaan lain yang berkecamuk dalam hatiku, haruskah aku mengihlaskan putriku menikah dengan pria ini?, sementara pria ini bukanlah siapa2 dan tidak memiliki apa2 selain iman dan sebuah cincin tua yang melingkar dijarinya…akhirnya dengan berbagai pertimbangan, aku meminta pemuda itu untuk kembali satu pecan kemudian, sambil member alas an bahwa begitu dia dating lagi maka jawaban atas permintaannya tersebut sudah ada.

Pendengar Nurani yang budiman

Usai bertemu dengan farhan saat itu.., perasaanku semakin tidak menentu, aku tidak tahu apakah aku harus menuruti egoku dengan menolak pinangan itu atau tidak.., tetapi disisi lain putriku begitu mendamba hadirnya suami sholeh untuk menemaninya..ya Allah berikan jalan yang terbaik buat masalahku ini…

Pendengar, untuk pertama kalinya aku mengadu kepada Rabbku tentang masalah ini dan berharap apapun yang terjadi dengan keputusan yang aku ambil ada campur tangan Allah didalamnya.., hingga akhirnya kubulatkan tekadku untuk menerima lamaran pria bernama farhan itu untuk putriku. Waktu terus bergulir..akhirnya sepekan itu berlalu juga dan hari yang telah aku janjikan itu dating juga..disaat hati ini telah ikhlas menerima kehadiran farhan yang kunilai adalah pemuda biasa yang tidak punya apa2 selain keimanannya, ternyata Allah menunjukan sesuatu yang luar biasa padaku dihari itu, mana kala farhan berkunjung kerumah menagih janjiku dengan membawa orang tuanya, alangkah kaget dan takjubnya aku ketika tahu bahwa farhan adalah anak tunggal seorang pengusaha kaya dari Jakarta, dan pewaris tunggal dari perusahaan milik orang tuanya itu, dan kuatahu juga bahwa farhan adalah seorang ustd yang telah menyelesaikan studinya di sebuah Universitas di timur tingah.., subhanallah..memang benar..ketika kita mengejar dunia, maka akhirat tidak akan ikut bersamanya, akan tetapi ketika kita mengejar akhirat maka duniapun akan secara otomatis ikut didalamnya..

Pendengar Nurani yang budiman

Akhirnya setelah melalui proses yang syar’I, resmi sudah putriku menjadi istrinya farhan..dan Alhamdulillah farhan menepati janjinya..kulihat ada raut kebahagiaan terpancar dari keluarga kecil mereka.., hanya doa yang bias aku ucapkan semoga mereka bahagia dunia dan akhirat.., aamiin…

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb


NB : Kisah ini kutulis sebagai bentuk ucapan terima kasih kepara Rabbku yang telah memberiku Hidayah-NYA hingga saat ini, dan kepada putriku juga menantuku yang Alhamdulillah dengan izin Allah melalui tangan merekalah hidayah ini menyapaku. Semoga bermanfaat... :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar